Problematika Generasi Penerus Bangsa
Generasi
penerus bangsa Indonesia adalah orang-orang yang akan meneruskan dan membawa
Indonesia nantinya kearah lebih baik atau kearah lebih buruk, yaitu para pemuda
bangsa Indonesia yang akan menggantikan aktor-aktor bangsa saat ini. Pada zaman
globalisasi dan pekembangan teknologi yang cepat ini generasi penerus bangsa banyak
yang terbawa arus dampak negatifnya, yang membuat kondisi penerus bangsa saat ini
sangat memprihatinkan, dan makin memprihatinkan lagi saat aktor-aktor bangsa tidak
ada yang layak untuk dijadikan panutan atau teladan.
“Mahasiswa adalah generasi
penerus bangsa. Masa depan bangsa ini berada di pundak mereka. Mahasiswa adalaha
gen perubahan layaknya para pahlawan yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Namun kondisi saat ini cukup memprihatinkan. Masyarakat kerap menuding pergaulan
mahasiswa sudah dikotori dengan praktik seks bebas di kampus, tawuran antar mahasiswa,
penyalahgunaan narkoba, jual beli ijazah, plagiat skripsi, tesis, hingga disertasi.
Termasuk tidak lagi menjadikan intelektualitas sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan
seseorang”(Agustian, 2007) .
Indonesia
yang lebih baik pun seperti hanya tinggal impian dengan keadaan penerus bangsa saat
ini. Masalah-masalah generasi penerus bangsa terus muncul dan berkembang hingga
saat ini, dan telah mendarah daging, seperti gaya hidup orang barat yang banyak
diterapkan pemuda saat ini yaitu menggunakan narkoba, minum-minuman keras dan hubungan
seks dilua rnikah, kecurangan-kecurangan ringan yang sering dilakukan pelajar saat
ini yaitu bolos, titip absen, plagiat dan nyontek serta membeli nilai atau absen
dengan uang, yang akan menciptakan koruptor bangsa, dampak negative teknologi yaitu
menonton video porno dapat dilakukan dimana saja dan gratis, menghabiskan waktu
didepan alat canggih, kecanduan game yang mengkibatkan sekolah maupun kehidupan
sehari-harinya terbengkalai. Menurunnya moral atau nilai kemanusiaan seperti membanggakan
sesuatu yang buruk dan jijik terhadap sesuatu yang baik, yaitu saat seseorang tidak
meroko dikatakan cupu, so alim dan lain-lain. Lebih suka kekerasan dalam menyelesaikan
masalah seperti tawuran, merasa gaul bila berkata-kata kasar serta perempuan zaman
sekarang yang lebih menyukai pakaian-pakaian minim dan transparan.
Penyebab
terus tumbuh dan berkembangnya problematika ini berasal dari dalam dan luar
para pemuda bangsa. Penyebab dari dalam yaitu control pemuda terhadap dirinya
yang lemah, serta ketidaktahuan yang mengakibatkan tidak dapat menentukan mana
yang baik dan mana yang buruk. Penyebab dari luar yaitu lingkungan sekitar yang
mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan masalah, seperti internet, yang
menjadi sumber hal-hal sensual yang gratis, tayangan televisi yang menampilkan acara-acara
yang tidak mendidik, pergaulan yang membanggakan mencontek dan mendiskriminasi seseorang
yang tidak mencontek atau memberikan contekan dan lain-lain.
“Sejauh ini bagi saya,
pemerintah belum pernah berhasil merumuskan solusi permasalahan pemuda. Bagi saya,
tidak ada solusi khusus bagi masalah pemuda di Indonesia hari ini. Hanyasaja,
pemuda Indonesia hari ini harus menjadi individu yang merdeka. Individu yang
heroik, yang selalu ingin keluar dari zona nyaman. Individu yang unggul dan sanggup
berkompetisi secara global. Individu yang tidak mudah puas. Individu yang
sanggup mengenali dirinya masing-masing. Individu yang selalu ingin belajar.
Individu yang skeptis, yang tidak mudah percaya dengan informasi-informasi yang
baru diterima. Individu yang berani. Individu yang jujur. Individu yang
paripurna sebagai manusia seutuhnya”(Dzakiy, 2013) .
Tidak
ada solusi khusus untuk problematika generasi penerus bangsa saat ini, namun ada
banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menuntaskan problematika yang ada.
Pemerintah
Pemerintah
mungkin dapat mengatur atau membatasi penyiaran acara televise dan internet di
Indonesia, membrantas koruptor lebih giat lagi, meng-improve system pendidikan
di Indonesia dan mungkin melakukan penyuluhan tentang parenting, karena orang
tua adalah panutan anak dan merupakan tempat belajar anak yang pertama.
Pendidik
Dosen
dan guru atau pengajar jangan pernah toleransi apalagi membiarkan muridnya melakukan
kecurangan. Karena kecurangan adalah bibit-bibit perilaku korupsi. Janganlah hanya
jadi seorang pengajar yang hanya menyampaikan materi, tapi juga seorang pendidik
dan pembina.
Orang
Tua
Para
orang tua, belajarlah menjadi orang tua yang baik, orang tua yang dapat manjadi
panutan dan teladan anak. Jangan lelah untuk belajar dan mencari tahu tentang bagaimana
mendidik anak dengan baik dan benar.
Pemuda-pemudidan
Kita Semua
Jadilah
pribadi yang unggul dan baik. Pribadi yang mempunyai perilaku dan moral yang
baik dan berprestasi serta pribadi yang paripurna. Dan persiapkan diri menjadi penerus
bangsa yang dapat merubah Indonesia menjadi lebih baik. Jadilah pribadi yang
tidak hanya ikut-ikutan terhadap sesuatu yang baru serta pribadi yang tidak toleransi
terhadap setiap masalah di sekitar kita dan peduli terhadap lingkungan serta
orang lain disekitar kita.
Problematika
generasi penerus bangsa akan terus tumbuh dan berkembang jika tanpa ada gerak perubahan
dari kita semua, jadi mulai sekarang bergeraklah menjadi roda perubahan untuk menciptakan
Indonesia yang lebih baik, karena kalau bukan kita yang melakukan perubahan terus
siapa lagi.
DaftarPustaka
Agustian, A. G. (2007, November 12). Diperoleh 19
April 2014 dari Pikiran Rakyat: http://pikiran-rakyat.com
Dzakiy, U. N. (2013, Oktober 28). Tidak Ada
Solusi Khusus Bagi Masalah Pemuda Di Indonesia. Diperoleh 19 April 2014
dari Indonesia 2045:
http://indonesia2045.com
No comments:
Post a Comment